Senin Pekan Depan, Pajak Pertalite Diputuskan Pansus DPRD Riau

RAKYATRIAU.COM - Mahalnya, harga pertalite di Riau salah satunya disebabkan besarnya pajak daerah yang ditetapkan di Riau. Panitia Khusus Revisi Pajak Pertalite DPRD Riau akan memutuskan besaran penurunan pajak daerah bahan bakar jenis pertalite, Senin (26/3/2018). Pajak pertalite akan diturunkan dari 10 persen menjadi 7,5 persen atau 5 persen.

Saat ini, harga pertalite di Riau Rp8.000 per liter dengan pajak daerah 10 persen merupakan harga pertalite termahal di Indonesia. Untuk itu revisi perda yang pasalnya mengatur pajak pertalite direvisi dewan dengan penurunan menjadi Rp7.600 per liter jika pajak 5 persen dan harga pertalite Rp7.800 per liter jika pajak sebesar 7,5 persen.

Ketua Pansus Revisi Perda Pajak Daerah DPRD Riau Erizal Muluk mengungkapkan, kendala dalam melakukan revisi ini sebenarnya tidak ada, namun untuk merubah pasal yang mengatur pajak pertalite ini tidak seperti membalikan telapak tangan. Apalagi, APBD Riau sudah selesai disusun dengan salah satu sumber pad dari pajak pertalite.

"Jadi, Senin pekan depan diputuskan berapa besaran penurunan persentase pajak apakah itu diputuskan 7,5 persen atau 5 persen. Kemudian dilanjutkan dengan paripurna," terang Erizal usai memimpin Rapat Pansus Revisi Perda Pajak Daerah dengan Pertamina, Kamis (22/3/2018) di ruang Medium DPRD Riau.

Politisi Golkar ini menuturkan dengan diturunkannya pajak pertalite maka harga pertalite di Riau akan mengalami penurunan.

"Sehingga, dengan diturunkannya pajak bahan bakar pajak kendaraan bermotor ini masyarakat diharapkan beralih menggunakan pertalite. Karena, Mobil yang diproduksi tahun 2000 keatas itu harus menggunakan bbm dengan oktan diatas 90, kalau Premium itu kan 88 sehingga tidak bagus sebenarnya untuk mesin dan ini tentunya harus disosialisasikan pertamina," terang Erizal.

Legislator Dapil Pekanbaru ini menyebutkan dalam rapat pansus bersama pertamina juga dipertanyakan masalah kelangkaan bbm jenis premium di Riau. Berdasarkan informasi dari pertamina kuota premium di Riau tidak ada pengurangan sama dengan tahun 2017, yakni premium 40 persen dan pertalite 60 persen.

"Namun, kelangkaan menurut mereka karena ada peralihan konsumen dari pertalite akibat tingginya harga pertalite di Riau," terang Erizal.

Sementara itu, Branch Manager Pertamina Riau Sumbar R Pramono Wibono mengungkapkan, penetapan Hargas pertalite konsepnya beda dengan premium yang menggunakan subsidi silang. Detail penyusunan seperti apanya, namun tergantung gkos produksi dan transportasi serta margin penyalur.

"Harga dasar pertaluer berbeda tergantung dengan pajak bahan bakar kendaraan bermotor. Jika pajaknya ditetapkan nanti 5 persen maka harga eceran Pertalite di Riau Rp7.600 per liter sama dengan Sumbar," terang Pramono.

Ketika disinggung kelangkaan premium di Riau. Pramono masih berdalih tidak ada terjadi pengurangan kuota. Menurutnya kelangkaan terjadi dikarenakan ada pergeseran konsumen pengguna pertalite kepada premium karena mahalnya harga premium di Riau.

"Premium 2016 awalnya gap harga premium dengan pertalite kecil. Namun, 2018 gap cukup besar mungkin ada pergeseran pengguna," ujar Pramono. (rud)

Berita Terkait
Olahraga
Peristiwa